Sejarah Bubuk MPASI di Indonesia dan Dunia

Bubuk MPASI sering dipahami sebagai produk modern yang tinggal diseduh atau ditambahkan ke makanan bayi. Padahal, gagasan di baliknya lebih panjang: keluarga di berbagai tempat sejak lama menghaluskan bahan pangan agar lebih mudah dimakan anak, sementara industri pangan kemudian mengembangkan tepung, sereal, dan makanan bayi siap pakai agar lebih praktis disimpan serta disajikan.

Sejarah ini penting untuk dipahami karena “bubuk MPASI” bukan satu jenis makanan dengan satu resep. Ada bubuk bahan pangan tunggal, misalnya bubuk ikan atau ayam; ada bubur instan berbahan serealia; dan ada produk komersial yang difortifikasi. Kegunaan dan komposisinya berbeda. Apa pun bentuknya, bubuk hanyalah bentuk pangan—kecukupan gizi, keamanan, dan cara pemberiannya tetap yang utama.

Apa yang Dimaksud Bubuk MPASI?

Dalam pemakaian sehari-hari, istilah bubuk MPASI dapat merujuk pada bahan makanan yang dikeringkan lalu dihaluskan, atau pada makanan pendamping ASI instan yang perlu diseduh. Bentuk bubuk membuat bahan lebih ringkas, lebih mudah ditakar, dan pada produk tertentu lebih awet karena kadar airnya rendah.

Namun, bubuk MPASI tidak menggantikan pengertian MPASI itu sendiri. Menurut World Health Organization (WHO), makanan pendamping diperlukan sekitar usia 6 bulan ketika ASI saja tidak lagi memenuhi seluruh kebutuhan energi dan zat gizi bayi. MPASI tetap diberikan sebagai pelengkap ASI, bukan penggantinya.

Sebelum Ada Produk Bubuk Komersial: Makanan Keluarga yang Dihaluskan

Jauh sebelum makanan bayi diproduksi dalam kemasan, keluarga menyesuaikan makanan rumah dengan kemampuan makan anak. Bahan yang lunak dimasak sampai matang, dilumatkan, disaring, atau ditumbuk. Cara ini masuk akal pada masa ketika penggilingan, pengeringan, dan pengemasan industri belum tersedia luas.

Di Indonesia, praktik MPASI sangat dekat dengan bahan pangan setempat. Bubur dari beras atau umbi, kacang-kacangan yang dihaluskan, sayur, telur, ikan, dan daging dapat diolah menjadi tekstur yang sesuai tahap kemampuan anak. Bahan dan resepnya tentu berbeda antarwilayah, mengikuti hasil pertanian, perikanan, kebiasaan keluarga, dan akses pangan.

Karena banyak praktik tersebut berlangsung di dapur rumah, tidak tepat menyebut satu tanggal sebagai awal “bubuk MPASI Indonesia”. Yang lebih jelas terdokumentasi adalah upaya pemerintah dan peneliti untuk menilai serta membakukan resep MPASI lokal pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Perkembangan MPASI Lokal di Indonesia

Repositori Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan mencatat survei Direktorat Bina Gizi Masyarakat pada 1999 di 15 provinsi yang menghimpun berbagai jenis MPASI lokal. MPASI lokal dalam penelitian tersebut didefinisikan sebagai makanan yang dibuat ibu rumah tangga secara tradisional dengan bahan pangan setempat. Temuannya menunjukkan bahwa kualitas dan kuantitas sejumlah resep perlu diperbaiki, terutama untuk zat gizi mikro seperti seng dan zat besi.

Penelitian lanjutan berjudul Pembakuan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Lokal, terbit pada 2001, menghasilkan 15 formula berdasarkan resep dari 15 provinsi. Ini menjadi penanda penting: perhatian tidak hanya tertuju pada makanan yang mudah dibuat, tetapi juga pada kepadatan energi, protein, dan zat gizi mikro.

Dari sini terlihat bahwa perkembangan MPASI di Indonesia berjalan melalui dua jalur. Jalur pertama adalah makanan keluarga dan resep lokal yang diolah sesuai kebutuhan anak. Jalur kedua adalah standardisasi, edukasi gizi, serta hadirnya produk kemasan untuk menjawab kebutuhan kepraktisan. Keduanya tidak harus dipertentangkan; yang perlu diperiksa adalah mutu bahan, kecukupan menu secara keseluruhan, dan kecocokannya untuk usia anak.

Jejak Produk Bubuk dan Makanan Bayi di Negara Lain

Secara global, perkembangan makanan bayi komersial berkaitan dengan kemajuan pengolahan susu, tepung, pengeringan, pengalengan, dan distribusi pangan. Pada 1867, Henri Nestlé meluncurkan farine lactée di Vevey, Swiss: produk berbahan susu sapi, tepung gandum, dan gula yang dirancang untuk bayi yang tidak dapat disusui. Catatan sejarah perusahaan Nestlé menyebut produk ini sebagai salah satu terobosan awal makanan bayi industri.

Perkembangan berikutnya tidak hanya berbentuk bubuk. Di Amerika Serikat, sejarah Gerber mencatat bahwa pada 1927 Dorothy Gerber mulai menyaring makanan padat untuk putrinya, lalu proses tersebut dikembangkan dalam usaha pengalengan keluarga. Contoh ini menunjukkan dua arah teknologi pangan bayi pada abad ke-20: produk kering atau berbentuk tepung di satu sisi, serta puree atau makanan saring dalam kemasan di sisi lain.

Seiring produksi massal berkembang, makanan pendamping komersial hadir dalam banyak bentuk: sereal instan, bubur siap seduh, puree kemasan, makanan beku, hingga bubuk bahan pangan. Kepraktisan, umur simpan, dan kemudahan distribusi menjadi alasan utama perkembangan tersebut. Namun, bentuk kemasan tidak otomatis menentukan kualitasnya; orang tua tetap perlu membaca komposisi dan petunjuk usia pada label.

Dari Kepraktisan ke Standar Gizi dan Keamanan

Perhatian dunia terhadap MPASI kemudian semakin beralih dari sekadar ketersediaan makanan menuju kualitas pemberian makan. WHO dan Pan American Health Organization menerbitkan prinsip pemberian makanan pendamping bagi anak yang disusui pada 2003. Pedoman WHO yang diperbarui pada 2023 menegaskan bahwa pemberian makanan pendamping umumnya dimulai pada usia 6 bulan dan berlangsung hingga usia 23 bulan, dengan perhatian pada keragaman pangan, keamanan, dan pemberian makan yang responsif.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan merangkum empat prinsip MPASI: tepat waktu, adekuat, aman, dan diberikan dengan cara yang benar atau responsif. Prinsip ini berlaku baik untuk makanan rumahan maupun produk bubuk. Artinya, bahan bubuk dapat membantu menambah variasi atau memudahkan persiapan, tetapi tidak dapat menutup kekurangan menu yang monoton atau cara penyajian yang tidak higienis.

Bagaimana Menempatkan Bubuk MPASI Saat Ini?

Bubuk MPASI modern sebaiknya dilihat sebagai alat bantu dapur, bukan jalan pintas untuk seluruh kebutuhan gizi anak. Bubuk berbahan tunggal dapat digunakan sebagai salah satu komponen menu, sedangkan bubur instan dapat menjadi pilihan praktis pada situasi tertentu. Keduanya tetap perlu dipadukan dengan makanan beragam sesuai usia dan kemampuan makan anak.

Saat memilih produk, perhatikan daftar bahan, informasi nilai gizi, batas usia, petunjuk penyajian, tanggal kedaluwarsa, dan cara penyimpanan. Gunakan air serta peralatan yang bersih, dan ikuti takaran pada kemasan bila produk perlu diseduh. Hindari menyamakan semua produk bubuk: kandungan protein, energi, zat besi, gula, garam, dan bahan tambahannya dapat sangat berbeda.

Kesimpulan

Sejarah bubuk MPASI bukan cerita tentang satu produk atau satu negara. Di Indonesia, akarnya berada pada pengolahan bahan pangan lokal di rumah dan kemudian penguatan mutu resep melalui penelitian serta panduan gizi. Di berbagai negara lain, kemajuan pengeringan, penggilingan, dan pengemasan mendorong lahirnya makanan bayi industri sejak abad ke-19, lalu berkembang menjadi banyak bentuk pada abad ke-20.

Pelajaran utamanya tetap sama: bentuk bubuk memberi kemudahan, tetapi MPASI yang baik harus tepat waktu, cukup zat gizi, aman, dan diberikan secara responsif. Untuk kebutuhan khusus, bayi prematur, atau anak dengan masalah tumbuh kembang dan makan, konsultasikan pilihan menu dengan tenaga kesehatan.

Sumber Rujukan

crystal sea indonesia

crystal sea indonesia

Crystal of the Sea hadir mempersembahkan yang terbaik dari alam untuk Anda, kami berkomitmen sepenuh hati untuk terus menghasilkan produk berkualitas yang sehat dan lezat.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram

FOLLOW US

Panduan membuat bubur ayam MPASI atau bubur nasi gurih dengan bubuk ayam murni, tanpa MSG, perasa sintetis, pengawet, dan bumbu ultra-proses.

Pentingnya imunisasi dasar lengkap untuk lindungi anak. Info jadwal, manfaat, KIPI, dan tips nutrisi …

Bingung apa itu ikan bilis? Kenali ikan teri kaya Omega-3 & Kalsium ini! Ungkap …