Banyak di antara kita, terutama para ibu yang hobi memasak yang fokus pada pemilihan bahan makanan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Crystal Of The Sea berusaha menyediakan asupan protein, lemak, karbohidrat, serta vitamin dan mineral yang cukup untuk keluarga. Namun, ada satu hal penting yang sering terlupakan: keamanan pangan.
Makanan yang bergizi belum tentu aman, begitu pula makanan yang aman harus tetap memenuhi kebutuhan gizi agar benar-benar bermanfaat. Artikel ini akan membahas perbedaan antara keamanan pangan dan kebutuhan gizi, serta memberikan panduan praktis bagi para ibu untuk menjaga keduanya.
Cek produk kami:
Contents
Apa Itu Keamanan Pangan vs. Kebutuhan Gizi?
Keamanan Pangan
Keamanan pangan adalah upaya memastikan bahwa makanan yang kita konsumsi terbebas dari bahaya (hazards) seperti mikroorganisme berbahaya, bahan kimia, maupun benda asing (fisik) yang dapat menimbulkan penyakit. Selezat hidangan yang kita sajikan, jika mengandung bakteri patogen seperti Salmonella, E. coli, atau virus dan racun tertentu, tentu akan menimbulkan risiko keracunan makanan bagi keluarga.
Praktik-praktik kebersihan (hygiene) dan sanitasi dalam penanganan makanan merupakan kunci utama keamanan pangan. Mulai dari mencuci tangan, membersihkan peralatan masak, menghindari kontaminasi silang antara bahan mentah dan matang, hingga memastikan suhu penyimpanan yang tepat adalah contoh tindakan pencegahan. Selain itu, penentuan dan pengawasan Critical Control Points (CCPs) dalam proses pengolahan makanan juga sangat penting untuk meminimalkan risiko.
Kebutuhan Gizi
Sementara itu, kebutuhan gizi lebih menitikberatkan pada kandungan nutrisi dalam makanan. Apakah makanan kita mengandung protein, vitamin, mineral, lemak baik, dan karbohidrat yang berkualitas? Apakah menu yang kita masak sudah memenuhi anjuran gizi seimbang untuk semua anggota keluarga? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan aspek nutrisi.
Bagi para ibu, memahami gizi berarti mengetahui porsi seimbang, memvariasikan sumber protein, memilih karbohidrat kompleks, serta menambahkan sayur dan buah. Semua ini penting agar seluruh anggota keluarga tetap bugar, mendukung pertumbuhan anak, serta mencegah berbagai penyakit degeneratif.
Pada akhirnya, makanan yang kaya gizi pun bisa berbahaya jika terkontaminasi bakteri atau bahan kimia. Begitu juga sebaliknya, makanan yang aman dikonsumsi belum tentu memberikan manfaat optimal jika kandungan nutrisinya tidak seimbang. Keseimbangan antara keamanan pangan dan kebutuhan gizi adalah kunci untuk menjaga kesehatan keluarga.


Tantangan Keamanan Pangan di Indonesia
Meskipun Indonesia kaya akan ragam kuliner, keamanan pangan masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan berbagai pengamatan di industri makanan dan minuman (F&B), terdapat beberapa permasalahan umum:
Kurangnya Kesadaran dan Miskonsepsi Tentang Keamanan Pangan
Kurangnya Kesadaran dan Miskonsepsi tentang Keamanan Pangan. Banyak orang sering mengabaikan praktik kebersihan dan sanitasi dalam mengolah serta menyimpan makanan. Contohnya, membiarkan makanan terlalu lama di suhu ruang, berasumsi bahwa menyimpan makanan dalam kulkas membuatnya aman selamanya, atau berpikir bahwa “perut orang Indonesia kuat” sehingga bisa tahan terhadap makanan yang kurang higienis.
Beberapa miskonsepsi tentang keamanan pangan masih banyak dipercaya. Misalnya, anggapan bahwa makanan dalam kulkas pasti aman selamanya, padahal bakteri hanya melambat pertumbuhannya di suhu rendah, bukan mati total. Selain itu, makanan kaki lima yang lezat dan murah sering dianggap aman, meskipun kebersihannya tidak selalu terjamin. Ada juga keyakinan bahwa arang aktif (norit) cukup untuk mengatasi keracunan, padahal ini hanya solusi sementara yang tidak selalu menyelesaikan akar masalah. Lebih parahnya, sebagian orang berpikir bahwa kebersihan tidak penting selama makanan murah, padahal jika sering sakit akibat makanan kotor, biaya pengobatan bisa jauh lebih mahal.
Ketergantungan pada UMKM Pangan
Banyak usaha kecil mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor pangan yang belum menerapkan standar keamanan pangan yang memadai, disebabkan oleh keterbatasan fasilitas, pengetahuan, atau modal. Selain itu, konsumen Indonesia cenderung mentoleransi jika terjadi masalah kecil terkait kebersihan, sehingga menyebabkan kurangnya informasi dan saran kepada pelaku usaha terkait masalah tersebut..
Statistik Keracunan Pangan di Jakarta (2016)
Dari 208 kasus keracunan yang dilaporkan, 52,4% disebabkan oleh seafood dan ikan, sementara 45,7% terjadi akibat makanan yang dikonsumsi di rumah tangga. Musim kemarau, dengan suhu yang lebih panas dan mendukung pertumbuhan bakteri, menjadi faktor utama dalam 62% kasus. Menariknya, 92,3% korban adalah orang dengan imunitas optimal, dan 51,4% diantaranya merupakan perempuan. Data ini menunjukkan bahwa siapa pun, terlepas dari kondisi tubuh atau keadaan ekonomi, dapat terdampak jika praktik keamanan pangan tidak diterapkan dengan baik.
Baca Juga : Mengenal Apa Itu Food Hygiene dan Food Sanitation dalam Industri Makanan
Risiko dalam Keamanan Pangan
Risiko Biologis (Mikroorganisme)


Bakteri, virus, jamur, parasit, dan bahkan fag bisa ditemukan di mana saja, termasuk pada kulit kita, di tanah, air, hewan peliharaan, dan terutama pada bahan makanan mentah. Pada suhu antara 4°C hingga 60°C, bakteri dapat berkembang biak dengan sangat cepat, dan di iklim Indonesia yang hangat, risiko ini semakin tinggi. Sebagai contoh, bakteri E. coli dapat berlipat ganda setiap 30 menit, dan dalam 12 jam, jumlahnya bisa mencapai 16 juta. Kasus nyata seperti keracunan massal di salah satu restoran di Singapura, yang menyebabkan 63 orang sakit dan satu meninggal karena bakteri Salmonella, atau insiden keracunan di Surabaya setelah mengonsumsi makanan “sehat” dari salah satu gerai, menunjukkan bahaya nyata kontaminasi.
Untuk mencegah hal ini, solusi yang dapat diterapkan antara lain memasak dengan suhu yang tepat (di atas 80°C selama 15 menit), rajin mencuci tangan dengan etanol 70% setiap 30 menit, mengenakan seragam kedap air, dan menyemprot sepatu dengan larutan klorin 200 ppm setiap 4 jam, memisahkan bahan mentah dan matang, serta penerapan SOP ketat di industri, seperti yang dilakukan oleh Crystal of the Sea. Namun, tidak semua UMKM memiliki fasilitas rantai dingin yang tepat. Sebagai alternatif, mereka bisa menerapkan pengurangan kadar air melalui pengeringan bahan atau menggunakan pengemasan canggih seperti vacuum packing atau nitrogen untuk memperlambat pertumbuhan mikroorganisme.
Risiko Fisik (Benda Asing)
Benda asing seperti kaca, plastik, kayu, rambut, hingga logam bisa masuk ke makanan di berbagai tahap, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi. Beberapa kasus menunjukkan bahaya nyata dari kontaminasi ini, seperti ditemukannya kadal mati dalam salah satu kemasan snack Salted Egg di Asia dan kasus keracunan massal di Jepang pada 2014 akibat pestisida malathion. Untuk mengatasinya, penting untuk memahami bahwa bahan baku tidak pernah 100% bersih dan harus selalu dicek serta dibersihkan. Di pabrik Crystal of the Sea, penggunaan material berisiko seperti stapler dan rafia dilarang di area produksi, sementara teknologi AI kini digunakan untuk mendeteksi benda asing dengan lebih konsisten dibandingkan mata manusia.
Bagi UMKM yang belum bisa menggunakan alat canggih, setidaknya perlu ada tahap quality control (QC) sebelum pengemasan dan menghindari penggunaan staples yang berisiko mencemari makanan. Di tingkat rumah tangga, penerapan keamanan pangan bisa dilakukan dengan menulis dan mematuhi SOP kebersihan, menerapkan sistem traceability sederhana dengan memberi label tanggal pada bahan pangan, serta mengenali bahaya umum seperti kontaminasi bakteri dari daging mentah atau pecahan tulang pada ikan. Risiko juga bisa dikurangi dengan aturan yang jelas, seperti tidak membiarkan makanan matang di suhu ruang lebih dari dua jam dan memastikan suhu kulkas tetap di bawah 4°C.
Edukasi juga berperan penting, misalnya mengajarkan anak-anak mencuci tangan sebelum makan dan melibatkan anggota keluarga dalam menjaga kebersihan dapur. Untuk usaha rumahan dan UMKM, memahami prinsip HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) bisa menjadi investasi berharga dalam keamanan pangan. Prinsip ini mencakup analisis bahaya, penentuan titik kendali kritis, pemantauan, serta dokumentasi untuk memastikan setiap langkah berjalan dengan baik.
Pelatihan HACCP tersedia di berbagai lembaga seperti BKIPM dan Kemenperin, yang dapat meningkatkan kepercayaan konsumen serta melindungi reputasi bisnis dari risiko kontaminasi pangan.
Mengapa Keamanan Pangan Sama Pentingnya dengan Kebutuhan Gizi?
Mungkin para ibu bertanya, mengapa repot-repot memikirkan keamanan pangan jika fokus utama adalah memberikan gizi terbaik untuk keluarga? Jawabannya:
1. Keracunan Pangan Dapat Menyebabkan Kekurangan Gizi
Jika anak atau anggota keluarga sering diare atau keracunan, tubuh tidak dapat menyerap gizi secara optimal. Tidak hanya itu saja dalam waktu jangka panjang, ini bisa memicu malnutrisi.
2. Mencegah Biaya Pengobatan
Lebih baik mencegah ketimbang mengobati. Biaya ke dokter dan obat bisa jauh lebih mahal dibanding biaya menjaga kebersihan.
3. Menjaga Reputasi (Jika Berbisnis Kuliner)
Sekali saja ada kasus keracunan, usaha rumahan kita bisa kehilangan pelanggan. Kepercayaan sulit dipulihkan.
4. Pandemi Membuat Konsumen Semakin Peduli Kebersihan
Setelah pandemi, kesadaran masyarakat meningkat. Pelanggan atau anggota keluarga akan lebih kritis soal keamanan pangan.
Tips Praktis untuk Ibu di Rumah
1. Periksa Kondisi Bahan Baku
Pilihlah ikan yang segar dengan ciri insang merah dan mata jernih, lalu untuk daging merah pilihlah yang tidak berbau aneh, serta untuk sayuran yang bebas dari bercak busuk. Selain itu, pastikan kemasan produk siap saji masih utuh dan belum melewati tanggal kedaluwarsa untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan.
2. Simpan Sesuai Jenis Bahan
Letakkan daging mentah di rak paling bawah lemari es untuk mencegah tetesan cairannya mengenai makanan lain, serta gunakan wadah tertutup untuk semua bahan.
3. Gunakan Air Bersih
Pastikan air untuk mencuci dan memasak benar-benar bersih. Jika perlu, rebus air dahulu.
4. Praktik Memasak yang Baik
Masak makanan hingga matang sempurna, terutama produk hewani, untuk memastikan bakteri berbahaya terbunuh. Hindari mencicipi makanan mentah, seperti adonan kue yang mengandung telur mentah, karena dapat meningkatkan risiko kontaminasi dan infeksi.
5. Pisahkan Talenan
Sediakan minimal dua talenan: satu untuk bahan mentah, satu untuk bahan matang atau siap santap.
6. Perhatikan Waktu Penyajian
Hindari meninggalkan makanan matang lebih dari dua jam di suhu ruang, terutama di musim panas atau di iklim tropis yang lembab.
7. Terus Belajar dan Beradaptasi
Ikuti seminar, baca buku, atau tonton video edukasi tentang keamanan pangan dan gizi, serta terus kembangkan pengetahuan agar dapat memadukan keduanya secara seimbang untuk menjaga kesehatan keluarga.
Kesimpulan
Menjaga keamanan pangan dan memenuhi kebutuhan gizi keluarga adalah dua hal yang saling melengkapi. Makanan yang bergizi akan sia-sia jika terkontaminasi, dan makanan yang aman tanpa kandungan nutrisi memadai juga tidak cukup menyehatkan. Sebagai ibu-ibu yang peduli dengan kesehatan keluarga, kita perlu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kebersihan, sanitasi, serta pemilihan bahan makanan bergizi.
Bagi pengusaha makanan dan minuman, ingatlah bahwa “kita hanya selangkah dari kerugian besar” jika mengabaikan keamanan pangan. Reputasi usaha atau merek pun bisa hancur sekali kena kasus keracunan. Dengan meningkatnya kesadaran akan kebersihan, terutama pascapandemi, sudah saatnya kita menuntut dan menerapkan standar keamanan pangan yang lebih baik. Kuncinya terletak pada pengetahuan, konsistensi, dan kesungguhan dalam menjaga kebersihan di setiap langkah—mulai dari membeli, menyimpan, memasak, hingga menyajikan makanan.
Pada akhirnya, keluarga sehat berawal dari makanan aman dan bernutrisi. Dengan mengikuti langkah-langkah sederhana dan terus belajar, ibu-ibu bisa memberikan yang terbaik bagi suami dan anak-anak, sambil tetap menjaga cita rasa khas masakan rumahan yang selalu dirindukan. Selamat memasak dan tetap semangat menjaga gizi serta keamanan pangan!


Sumber:
- https://dinkes.gunungkidulkab.go.id/keamanan-pangan-2/
- https://badanpangan.go.id/blog/post/pengawasan-keamanan-dan-mutu-pangan
- https://dinkes.salatiga.go.id/5-kunci-keamanan-pangan-siap-saji/
- https://hellosehat.com/nutrisi/tips-makan-sehat/keamanan-pangan/
- https://hellosehat.com/nutrisi/pengertian-akg/