Contents
- Apa Itu GTM dan Mengapa Banyak Anak Mengalaminya?
- Membedakan GTM, Picky Eater, Small Eater, dan Selective Eater
- Strategi Menghadapi Anak yang Sulit Makan
- Peran Tekstur dan Rasa dalam Makanan Anak
- Vitamin Penambah Nafsu Makan: Perlu atau Tidak?
- Kapan Harus Khawatir dan Konsultasi ke Dokter?
- Anak Susah Makan Saat Sakit? Ini Wajar
- Yuk, Mulai Dari Hal Sederhana
Apa Itu GTM dan Mengapa Banyak Anak Mengalaminya?
Gerakan Tutup Mulut (GTM) merupakan istilah populer di kalangan orang tua ketika anak secara konsisten menolak makan. Dalam sesi live bersama dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, dijelaskan bahwa tidak semua kasus GTM merupakan masalah serius. Faktanya, hanya sekitar 10–20% dari anak-anak yang datang dengan keluhan GTM benar-benar mengalami gangguan makan yang perlu penanganan khusus.
Sebelum mengategorikan anak mengalami GTM, penting bagi orang tua untuk memahami feeding rules atau aturan pemberian makan yang mencakup jadwal makan, prosedur, serta sikap orang tua selama proses makan. Bila feeding rules sudah diterapkan dengan tepat namun anak tetap sulit makan, barulah bisa dikatakan ada gangguan makan.
Cek produk kami:
Membedakan GTM, Picky Eater, Small Eater, dan Selective Eater
1. Small Eater
Small eater adalah anak yang makan dalam jumlah sedikit, meskipun feeding rules sudah dijalankan dengan baik. Biasanya kondisi ini terlihat dari berat badan anak yang stagnan atau sulit naik.
2. Picky Eater
Anak yang termasuk picky eater masih mau mencoba berbagai jenis makanan, namun hanya dalam jumlah kecil dan cenderung pilih-pilih dalam hal rasa atau tekstur. Ini masih tergolong normal, terutama di usia 6 bulan hingga 3 tahun.
3. Selective Eater
Ini adalah kondisi yang perlu perhatian serius. Selective eater tidak mau menyentuh satu jenis kelompok makanan sama sekali, misalnya menolak semua jenis protein. Kasus ini bisa menjadi indikasi adanya gangguan perkembangan seperti Autism Spectrum Disorder (ASD) atau masalah sensori, dan wajib dikonsultasikan ke dokter anak.


Strategi Menghadapi Anak yang Sulit Makan
Feeding Rules adalah Fondasi
Pastikan feeding rules sudah benar: jadwal makan tetap, tidak ada distraksi seperti gadget, dan orang tua hadir secara penuh saat proses makan berlangsung. Jangan membandingkan anak dengan anak lain atau memaksa anak menghabiskan makanan dalam waktu lama. Idealnya, waktu makan hanya 15–30 menit.
Pahami Tahapan Penerimaan Makanan Baru
Dr. Ian menyarankan agar orang tua mengenalkan makanan baru secara bertahap. Proses penerimaan makanan melibatkan beberapa tahap: melihat, menyentuh, mencium, menjilat, mengunyah, hingga akhirnya menelan. Semua proses ini butuh waktu, kesabaran, dan konsistensi.
Gunakan Teknik Food Chaining
Food chaining adalah metode mengenalkan makanan baru dengan bertahap, dimulai dari makanan yang sudah disukai anak. Misalnya, anak suka kentang goreng, bisa dilanjutkan ke kentang panggang, lalu ke wortel goreng, dan berujung pada wortel rebus. Teknik ini bisa berlangsung selama 3 bulan dan butuh kreativitas orang tua.
Peran Tekstur dan Rasa dalam Makanan Anak
Tekstur, aroma, dan warna makanan sangat mempengaruhi minat makan anak. Gunakan bahan alami seperti keju, butter, atau kaldu rumahan untuk meningkatkan cita rasa makanan. Anak-anak juga cenderung menyukai tekstur renyah atau kriuk. Jika anak menyukai makanan kering seperti kerupuk atau snack, bisa dialihkan ke camilan sehat seperti kerupuk ikan atau keripik sayur buatan sendiri.
Vitamin Penambah Nafsu Makan: Perlu atau Tidak?
Pemberian vitamin penambah nafsu makan hanya direkomendasikan dalam kondisi tertentu, seperti jika anak mengalami defisiensi zat besi atau vitamin B kompleks. Namun, prinsip utamanya tetap pada penerapan feeding rules dan peningkatan kualitas rasa makanan. Jika ingin mencoba suplemen, pastikan di bawah pengawasan dokter.
Baca Juga : Mengapa Berat Badan Anak Tidak Naik Meski Sudah MPASI? Ini Jawaban dan Solusinya
Kapan Harus Khawatir dan Konsultasi ke Dokter?
Tanda-tanda anak mengalami masalah makan serius:
- Tidak mau makan kelompok makanan tertentu sama sekali (selective eater)
- Berat badan tidak naik selama dua bulan berturut-turut
- Sudah menerapkan feeding rules namun tetap mengalami GTM
- Mengalami gangguan perkembangan lain seperti keterlambatan bicara atau keterlambatan berjalan (misalnya belum bisa jalan di usia 15 bulan)
Jika dua atau lebih dari tanda-tanda di atas ditemukan, segera konsultasikan ke dokter anak atau konselor PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak).
Anak Susah Makan Saat Sakit? Ini Wajar
GTM sesaat bisa terjadi saat anak sedang sakit seperti flu atau sariawan. Yang penting, tetap tawarkan makanan bernutrisi, bertekstur lembut, dan jangan terlalu memaksa. Begitu anak membaik, nafsu makannya biasanya kembali normal.
Yuk, Mulai Dari Hal Sederhana
Ingat, memberi makan anak adalah proses belajar dua arah. Anak belajar mengenali rasa, tekstur, dan sinyal lapar–kenyang, sementara orang tua belajar memahami kebutuhan anak. Jangan cepat panik jika anak menolak makanan. Coba lagi dengan pendekatan berbeda, libatkan anak dalam proses memilih dan menyiapkan makanan, serta nikmati setiap momen sebagai bagian dari tumbuh kembangnya.
Kalau Mama Papa ingin menyimak versi lengkap diskusi bersama dr. Ian Suyadi, tonton videonya di Instagram kami melalui link ini.
Untuk tips lainnya seputar MPASI, gizi, dan kesehatan anak, jangan lewatkan update terbaru dari blog kami di Crystal of the Sea!


Sumber :
- https://www.instagram.com/p/DJq8E4OTwE9/